Kesucian Dunia Ilmu Pengetahuan Ternodai Virus Plagiarisme

   Ilmu dalam bahasa Inggris disebut science sedangkan pengetahuan adalah knowledge. Menurut Wikipedia, Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangan dan kepastian ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

   Dalam bahasa Arab, ilmu disebut sebagai nurun dengan arti cahaya dan cahaya seringkali dikatakan suci. Dengan ilmu pengetahuan, teranglah semua apa yang ada di dunia ini. Pribahasa Madura menyebutkan bahwa ilmu adalah ngil-nungngil tape tak e themmoh (ilmu itu mungil tapi susah diperoleh).
Ilmu susah dipelajari namun jika berhasil dapat mengangkat peradaban. Contoh yang dapat disoroti yaitu era jahiliyah di mana sikap prilaku manusia sangat buruk sekali namun dapat terang ketika Rasulullah bersyiar dalam setiap lini kehidupan baik dibidang Muamalah sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, ilmu sosial sehingga tidak ada lagi yang namanya perbudakan, dan semacamnya. Abad demi abad pun berlalu sampai muncullah ilmu dibidang kesehatan, astronomi, geografi dan semacamnya. Semakin ditemukannya hal baru itu menjadikan kehidupan manusia lebih beradab dan lebih baik apalagi di setiap tahunnya selalu ada inovasi baik dari penemuan lampu pijar, telepon, komputer, pesawat, mobil dan segala sesuatu yang menjadi semakin canggih dan serba instan di abad ke 21 ini baik dari segala transaksi jual beli yang serba online dalam hitungan detik, penerapan e-money, e-book, e-library, dan segala sesuatu yang serba digital.

   Namun, ilmu pengetahuan yang biasanya diidentik oleh akademisi atau pelajar yang berkecipung dalam dunia pendidikan utamanaya Mahasiswa di mana biasanya berdiskusi untuk memajukan ilmu pengetahuan, mencari kebenaran, dan memberikan solusi pada permasalahan dan kebutuhan manusia malah tercemari oleh virus Plagiat.

Budaya diskusi

   Plagiat sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu plagium yang artinya menculik dan plagiaat dari bahasa Belanda yang artinya mengambil tulisan, pikiran atau gagasan orang lain dan mengemukakannya -kepada masyarakat- sebagai hasil karya atau pemikirannya sendiri.


 Akademis yang biasanya memiliki kehidupan ilmiah budaya akademik, agak tercemar oleh virus plagiat. Menurut Mochtar Buchori (2005, 46) menyebutkan tiga jenis kegiatan akademis, yaitu 1) kegiatan mencari pengetahuan baru secara terus menerus; 2) kegiatan mencari kebenaran secara terus-menerus; dan 3) kegiatan menjaga secara terus menerus, agar ilmu serta pengetahuan yang telah dikembangkan tidak dicemari oleh kepalsuan dan kebohongan. Namun saat ini, budaya plagiat sangat menjamur di kehidupan akademis baik yang masih semester baru maupun semester tua. Copy-paste di sana sini menjadi hal yang sangat lumrah. Meski begitu, plagiarisme menurut Mochtar Buchori, tidak hanya terjadi dalam kehidupan ilmiah saja namun juga dalam kehidupan sastra, seni suara, kehidupan politik, dan juga dalam kehidupan jurnalistik. Meng-Aku-kan dirinya yang bukan dirinya agar memiliki ketenaran dalam peningkatan status sosialnya. Namun ketenaran ini hanya akan bersifat sementara karena berpondasikan kebohongan dan kecurangan. Maka dari itu lebih baik susah terlebih dahulu baru senag kemudian karena kelelahan akan menjadi kenikmatan yang luar biasa diakhir.
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments